Aku,
mungkin tahun 2007 atau 2008, untuk pertama kalinya mengenal istilah
‘light pollution’, polusi cahaya, dari sebuah acara ilmu pengetahuan di
telivisi. Itu istilah yang asing bagi kita, bukan hanya karena ia
menggunakan bahasa asing, tapi karena keanehan bahan yang didefinisikan
sebaga polusi: cahaya. Bukankah sekarang semua pemerintah di manapun di
planet bumi ini berlomba-lomba untuk membuat setiap jengkal tanahnya
terang benderang? Membebaskan warganya dari kegelapan malam? Bahkan,
untuk banyak kasus di daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan di
Indonesia, masyarakat berswadaya untuk menghadirkan listrik dan
menerangi desa mereka. Polusi cahaya memang bukan istilah untuk
masyarakat pada umumnya, ia adalah sebuah keluhan, ia adalah sebuah
dorongan untuk pergi, ia adalah suatu akibat dari sebab yang bagus.
Polusi cahaya adalah sebuah istilah milik para astronom, mereka yang
jatuh hati dan selalu mencari ruang untuk menyaksikan bintang, bulan dan
benda-benda langit lainnya. Kita akan membicarakan polusi cahaya ini
untuk kemudian terkejut bahwa, mungkin, para astronom sebenarnya salah.
Bahwa polusi cahaya tidak hanya milik mereka, bahwa polusi cahya tidak
hanya membutakan mereka, tapi sepertinya hampir kita semua.
Di kota-kota besar, seperti Los Angeles, New York, beberapa bagian
Jakarta dan Surabaya, Riyadh dan Dubai, Singapura atau Kuala Lumpur,
Johannesburg juga London, malam hari hampir tak ada bedanya dengan siang
hari. Cahaya lampu penerang jalan, lampu mobil dan sepeda motor yang
menerjang ke sana kemari, cahaya dari papan iklan besar dan cemerlang,
cahaya dari restoran dan toko-toko 24 jam, cahaya dari perhotelan dan
gedung-gedung hiburan, menyembur keluar tanpa batas dan jeda. Cahaya
terang benderang itu mengusir kegelapan jauh ketepian. Semua orang
hampir bisa melihat wajah semua orang lainnya dengan jelas. Hanya saja,
ketika mereka mendongak, mereka akan menyadarinya, tidak ada apa-apa di
sana yang bisa dilihat. Cahaya terang benderang dari gedung-gedung mewah
telah menutupi penglihatan mereka. Mereka tak bisa melihat bintang, tak
bisa menyaksikan meteor yang jatuh dan berpijar, tak bisa dengan
sempurna menikmati rembulan yang melingkar pelan. Keindahan angkasa raya
tertutup oleh cahaya yang bertebaran dari lampu-lampu buatan. Kota
besar adalah tempat yang menyakitkan bagi para astronom karena polusi
cahayanya.
Kita tidak bisa meneliti benda-benda langit jika melakukannya di kota
besar. Wujud mereka yang bermilyar tahun cahaya jauhnya dari bumi
tereduksi oleh kuatnya lampu di sekitar. Itulah mengapa observatorium
dibangun di tempat-tempat yang terpencil, jauh dari pemukiman penduduk.
Para astronom amatir juga akan pergi jauh ke pedalaman atau pegunungan
atau padang pasir untuk bisa menikmati pemadangan malam. Mengapa? Ah,
kau pasti sudah tahu, hanya dari tempat yang gelap itulah kita bisa
menyaksikan bintang dan rembulan, komet dan planet, dengan sempurna dan
menakjubkan.
Orang-orang Aborigin, Taureg, Dayak dan suku-suku terpencil lainnya
sama sekali tidak memiliki masalah untuk menikmati langit malam
berbintang. Mereka, dari manapun tempatnya, bisa menyaksikan bintang
sesuka hatinya. Kegelapan tempat tinggal mereka memungkinkan baginya
untuk melihat cahaya dari kejauhan angkasa. Bahkan, mereka pun bisa
menyaksikan bintang dari dalam tempat tidur mereka.
Bagaimana denganmu? Aku terhenyak di sini: kita tidak bisa
menyaksikan keindahan langit malam di kota besar karena cahayanya yang
terang benderang. Kita dibutakan oleh cahaya lampu-lampu gedung dan
kendaraan. Tapi kita bisa menyaksikan keindahan itu dari pedalaman,
tempat yang tersingkir dan penuh kegelapan. Karena kegelapan yang ada di
sekitar kita tak menutupi indahnya bintang yang jauh di atas sana.
Bukankah ini terjadi setiap hari? Setiap detik? Setiap waktu? Ketika
hidup dalam kelimpahan, ketika kita hidup dalam kesenangan, segala
fasilitas dan kenikmatan dunia membanjiri, kita akan buta, kita akan
lupa bahwa ada nikmat yang lebih besar menanti kita, bahwa ada kehidupan
yang lebih indah di luar sana yang harus kita kejar. Akan tetapi,
justru saat kita dalam kesusahan, dalam kesedihan yang dalam dan
membutakan, kita baru bisa menyaksikan keindahan itu. Semoga cahaya yang
melimpah di sekitar kita tidak membutakan kita terhadap keindahan yang
lebih sempurna.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali-imran: 185).
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah senda guaru belaka.
Kesenangan-kesenangannya bertahan sementara dan tidak sempurna.
Satu-satunya yang pasti mengenai kenikmatan dunia adalah bahwa ia
nantinya akan pudar dan musnah. Keluarlah dari kesenangan itu, lihatlah
jauh ke sana, di atas kita, ada kesenangan yang kekal menanti dalam
janji. Al-Qur’an telah mengingatkan kita sejak ratusan tahun yang lalu,
sejak dahulu kala. Tinggal bersediakah kita mengejarnya?
Artikel renungan ini diambil dari blog pribadi seorang novelis sekaligus pengajar di SMA Manarul Qur'an, Arul Chandrana.
Hallo!
BalasHapusUniversitas Gunadarma membuka pendaftaran mahasiswa baru, untuk info lebih lanjut silahkan kunjungi link web dibawah ini
Pendaftaran Mahasiswa Baru